Jump to Navigation

發表新回應

S&P juga mengungkapkan, dampak social distancing berpengaruh pada pengurangan belanja konsumen, bersama dengan larangan perjalanan dan jatuhnya harga minyak memukul investasi di sektor energi negara. Melansir dari CNN Business, S&P Global juga mengeluarkan catatan yang mengatakan AS sedang dalam proses memasuki resesi, atau sudah memasuki resesi. Hal ini dibuktikan S&P global berdasarkan PDB di AS turun 1% pada kuartal pertama, dan sebesar 6% pada kuartal kedua. "Meskipun kebijakan fiskal akan mengatasi beberapa hambatan, wabah virus sangat mungkin mendorong Italia ke dalam resesi," dikutip dari laporan penelitiannya.

https://penzu.com/p/212f0b07 ini akibat permintaan global yang juga diperkirakan akan naik, meskipun IMF mengatakan prospek untuk pemulihan dalam perdagangan global tidak sekuat enam bulan lalu. Para ekonom mengharapkan Federal Reserve AS menurunkan suku bunga setidaknya 50 basis poin lagi. Untuk investor, masih ada waktu untuk tetap berhati-hati pada aset berisiko dan fokus pada likuiditas dan pelestarian modal, karena bank sentral memiliki sedikit amunisi dengan kerentanan di bagian berisiko dari pasar kredit korporasi. Fels berharap resesi akan berlangsung singkat, dengan asumsi wabah virus memuncak dalam dua bulan ke depan. Sejumlah pakar memandang, kondisi Jerman yang sedikit lebih baik tersebut disebabkan keputusan dari 16 negara bagian untuk mengizinkan pabrik dan lokasi-lokasi konstruksi tetap beroperasi. Namun demikian, merosotnya ekonomi di negara itu tidak seburuk negara-negara tetangganya. Untuk Indonesia, karena tidak terlalu terlibat banyak ekspor dan masuk ke dalam lingkaran global supply chain, tidak akan terlalu terpengaruh. Sementara, Britania Raya (atau Inggris ya?) akan memgalami resesi jika tidak segera mencapai kesepakatan dengan 27 negara Uni Eropa hingga Januari 2020 mendatang. Kepala Penasihat Ekonomi Global di Pacific Investment Management Co. (Pimco) Joachim Fels mengatakan kemerosotan manufaktur China dan melemahnya pasar untuk layanan perjalanan menjadi faktor utama. Hal ini umumnya dipicu oleh kekurangan komoditas karena penurunan tingkat produksi, terutama bahan-bahan pokok. Selain itu, pemerintah Jerman pun menggelontorkan paket stimulus penyelamatan ekonomi.



Main menu 2

by Dr. Radut.